Jumat, 14 Oktober 2016

Comrade Kelly Kwalik, Hormat!


  Tuan Kelly



Penulis: Sanimala B


“Hormat bagimu, Tuan Kelly ...”

 Bagimu, hidup adalah perjuangan, mati adalah keuntungan. Setiap hari  kami menepi untuk rehat sejenak, hanya kalimat itu yang kuingat. Dan setiap kali mengingatnya, kuingat lelaki kurus tinggi itu. Lelaki mantan guru itu. Lelaki pemilik pangkat “Separatis” dan “Pahlawan” itu. Dia kami sebut Kelly.

Kelly yang kumaksud adalah Jenderal Kelly Kwalik.

Tajam matanya bagai elang. Menerobos belukar dan belantara hingga ke balik bukit. Cerdik. Berani. Yang paling kusukai: sadar bahwa dirinya Papua. Kesadarannya ia bungkus dengan baju lusuh yang membungkus badan kerempeng. Dengan senjata di pundak, kesadaran memaksanya menderita.

Rebung Patah

Rebung Patah
Cerita tentang tunas muda Papua yang begitu cepat ditebang iblis. Cerita  yang akan abadi selama detak jantung masih terasa mengalirkan darah ke seluruh sendi.


 Penulis: Sanimala B.

Ini cerita tentang tunas yang malang. Tunas yang harus mempersembahkan masa dewasa dan tuanya kepada malaikat kematian yang datang memotongnya tanpa ada rasa bersalah. Ini cerita tentang tunas muda yang mati.

Tapi jangan kau sangka ini cerita kematian. Bukan! Ini cerita kematian yang menggetarkan kalbu. Bahwa rebung bambu muda mestinya diberi waktu cukup untuk mengeluarkan ranting dan tangkai, memunyai dedaunan rimbun, dan mempersilakan kawanan burung bertengger dan membuat sarang. Ini cerita tentang tunas yang dipaksa menjadikan mimpi bagi semua garis kehidupan yang diberi Tuhan.