Jumat, 14 Oktober 2016

Rebung Patah

Rebung Patah
Cerita tentang tunas muda Papua yang begitu cepat ditebang iblis. Cerita  yang akan abadi selama detak jantung masih terasa mengalirkan darah ke seluruh sendi.


 Penulis: Sanimala B.

Ini cerita tentang tunas yang malang. Tunas yang harus mempersembahkan masa dewasa dan tuanya kepada malaikat kematian yang datang memotongnya tanpa ada rasa bersalah. Ini cerita tentang tunas muda yang mati.

Tapi jangan kau sangka ini cerita kematian. Bukan! Ini cerita kematian yang menggetarkan kalbu. Bahwa rebung bambu muda mestinya diberi waktu cukup untuk mengeluarkan ranting dan tangkai, memunyai dedaunan rimbun, dan mempersilakan kawanan burung bertengger dan membuat sarang. Ini cerita tentang tunas yang dipaksa menjadikan mimpi bagi semua garis kehidupan yang diberi Tuhan.


Adalah dia, sang Iblis. Ia bekerja 25 jam sehari. 65 menit per jam. 65 detik per menit. Tak sedetik pun matanya terkatup. Konon, ini semua untuk menebus janjinya pada Tuhan. “Kelak kita akan lihat, kepada siapa manusia yang kau ciptakan mengikuti.” Dan untuk janjinya itu, Iblis mengerahkan semua sumberdaya dan kekuatan. Konon, Iblis juga berkoloni, merasuki setiap orang. Ketika koloni sang iblis telah merasuki manusia, Iblis mulai merasuki benda-benda. Bhkan nafas sekalipun.

Tapi untuk yang satu ini, aku tidak terima. Mengapa? Karena rebung bambu ini, tunas ini, anak bangsa ini, dia masih muda. Tak pantas ia begitu saja diremehkan: dipangkas tanpa ampun. Aku dengar manusia di sudut ruangan bertanya, mengapa rebung bambu itu harus lahir, sedang hidupnya harus dipangkas semuda itu? Sementara yang di tengah menyahut, tunas ini tak pantas mati. Setidaknya ada harga yang diberikannya kepada sang pencipta: karyanya. Aku tak mengerti mengapa dia pergi begitu lama.

Aku memang tidak mengerti cerita ini bermula dari mana dan berakhir entah sampai kapan. Kukira cerita ini tak ada ujunya. Setiap orang akan menyambung kisah tentang tunas ini: dia tunas berbakat. Ia tunas berpotensi. Ia tunas terbaik. Ia tunas muda dan sehat. Ia tunas imut. Ia tunas bernurani. Ia tunas gagah. Ia tunas berbobot. Aku tak tahan mendengar ini semua. Aku masih punya satu pertanyaan: Mengapa harus tunas muda ini?

Saya tidak bermaksud apa-apa memberi pengantar untuk kisah ini. Yang pasti, ini kisah seorang anak muda Papua. Ia masih belia, amat sangat muda. Tapi dia berbakat. Ia mengangumkan. Sayangnya, justru dia yang harus dipangkas. Entah mengapa harus dia, bagaimana semua terjadi, mengapa harus tunas muda, saudaraku, aku tak kuasa menjawabnya. Kita benar-benar hidup di saman penuh misteri. Mereka menjadikanya misteri –yang akan dipecahkan kapan, kita tidak akan pernah dibuat tahu- yang abadi.

Dia, rebung muda ini adalah sahabatku. Kisah ini tak berarti apa-apa bagi yang apatis terhadp matinya ribuan rebung muda rumpun ini di pot Papua, pekarangan pasifik. Entah apa pun yang engkau katakan, saya dari awal harus memperingatkan kau: kematian datang kapan dan dimana saja, dengan cara apa pun. Kisah ini menginspirasi kita akan dasyatnya hidup dan dunia ini, dan masyatnya Sang Esa yang menciptakannya.

Akhirnya aku berhasil merelakan lelaki ini terpangkas. Bukan merelakan kematiannya, tetapi merelakanya mengetahui bahwa dia telah tiada.  Aku benar-benar sakit. Seperti induk yang dengan teliti mengetahui setiap keajaiban talenta anak-anaknya, aku mengagumi tunas yang satu ini.

Tapi nasibnya begitu tragis, malam itu ...

***

Malam
 itu masih hari Rabu. Aku masih ingat tanggalnya, 04 Juni 2014. Setelah ke kampus untuk kuliah, saya langsung menuju asrama Dogiyai di Klebengan, komplek UGM, Yogyakarta. Di sana ada Paulus.
Kamarnya 205, rumah dua. Asrama Dogiyai punya da rumah. Kami menamainya Rumah Satu dan Rumah Dua. Setelah motor kuparkir di tempat parkir, kulihat pintu kamar 2.05 terbuka. Aku menuju ke sama.

Tak ada orang. Leptopnya masih ada. Facebook Paul masih aktif. Ia telah membeli pulsa Nolspot, salah satu penyedia layanan internet  di komplek kami.

Sekitar 3 jam aku berselancar di internet. Karena bosan, aku tutup saja searchingku di internet dan kemudian memutar lagu. Tanpa mematikan lagu, aku berdiri dan mereagangkan badan. Tak terasa, sudah pukul 18.00 WIB. Aku ingat kaka Jhon Kuayo yang sedang istirahat di kamarku. Aku segera ke sana menjumpainya. Ketika pintu kamar Paul ingin kukunci, aku lihat dia berjalan santai menuju kamarnya. Ia ada di halaman. Aku tersenyum padanya, dan ia juga membalas senyumku.  Tanpa kata.

“Pintu sa tra kunci ee..”

“Oke.”

Aku kemudian ke kamar 2.02. Aku kemudian membangunkan Jhon untuk mengajaknya ke asrama Papua Kamasan I Yogyakarta. Kamis, esok harinya aku punya kuliah di pagi hari, dan akan lebih baik bila tidur di asrama Papua yang letaknya dekat dengan kampus.

Setelah Jhon bangun, kami pamit pada Paul.

“Keemaiha, hati-hati!”

Itu kalimat terakhir yang aku dengar keluar dari mulutnya langsung. Malam itu, kami meninggalkan asrama Dogiyai kira-kira pukul 18.30 WIB.

Tiba di asrama Papua, saya membuka notebook untuk belajar mata kuliah Pemrograman dan Basis Data yang akan diuji keesokan paginya. Aku memang tidak berkonsentrasi karena beberapa orang masuk sehingga saya harus bersama mereka bercerita. Aku memang memegang buku di tanganku, tetapi itu tidak kuindahkan.

Microsoft Ascces yang aku buka pun akhirnya kututup. Kuputar lagu dan kami bercerita sambil mendengar lagu. Untuk ujian kali itu, aku menghadapinya tanpa persiapan maksimal.

Itu juga karena waktu persiapan di malam dan pagi hari terbuang karena kisah ini.

Pukul 21.30 WIB lebih, ada short message yang masuk di inbox handphoneku. Kubuka. Kubaca.
“Mat malam teman-teman Ipmanapandode. Adik Paul dan Adhen dapat pukul di Malioboro. Skrang mreka di RS terdkat.”

Begitu dapat SMS demikian, segera kumatikan notebook dan bersama Jhon, kami menuju Malioboro. Kami mencari tahu di rumah sakit mana merek dirawat.

Aku memang kaget. Paul adalah adik yang kaunggap sahabat. Sementara Adhen adalah sahabatku sejak kami bertemu di SMA. Dia dan aku sering bersama. Karena kenal baik dengan keduanya, aku bertanya-tanya sepanjag jalan, mengapa mereka dipukul.

Sebelumnya, di dekat terminal Giwangan, ketua asrama Papua dikeroyok warga. Kejadiannya terjadi di malam Selasa, tanggal 03 Juni 2014. Ketua asrama tersinggung karena ada orang yang menudahinya. Kebetulan, yang meludahinya itu menurutnya adalah orang Maluku.

Ketika keluar dari Alfamaret. Sekelompok warga bersenjatakan balok, alat tajam dan batu berlari ke arahnya, mengepungnya, dan menghajarnya bersama-sama. Polisi juga diperkirakan telah tiba di tempat kejadian saat itu, namun mereka memilih diam saja.

Usai Emiler Jigibalom, ketua asrama itu dikeroyok, polisi yang telah ada di tempat kejadian membawanya kembali ke asrama Papua. Masalah telah dianggap polisi, telah selesai, dengan diantarnya ketua asrama ke asrama Papua.

Saya dan Jhon parkir motor di depan Rumah Sakit Muhammadiyah, Malioboro, Yogyakarta. Kami masuk, dan mendapati banyak anak-anak dari Ikatan pelajar dan mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai telah kumpul di depan rumah sakit. Menurut mereka, korban telah dimasukkan ke dalam ruang Unit Gawat Darurat.

Menurut mereka, Adhen telah selamat dari upaya pembunuhan. Mengenai pembunuhan, saya masih belum mendapat keterangan yang terpercaya.  Setelah bertemu Adhen, saya masuk ke UGD. Petugas keamanan menegurku dengan mengatakan telah banyak orang masuk ke dalam dan saya harus mengantri menunggu yang di dalam keluar dahulu.

Saya tidak peduli. Saya menerobos masuk saja. Kukatakan pada petugas keamanan itu bahwa aku kakaknya dan ingin melihat kondisi luka dari Paul. Ia kemudian mempersilahkanku dengan terpaksa.

Setelah kain gorden pembatas berwarna hijau itu kusingkap, kulihat kondisi Paul. Saya benar-benar terkejut. Matanya telah terpejam. Mulutnya mengeluarkan darah. Darah keluar juga melalui telinga dan hidung.

Ada selang putih kulihat telah dimasukkan melalui mulut hingga ke tenggorokan. Pernafasannya telah dibantu oleh alat bantu pernafasan. Aku tertegun. Air mata tak kuasa kubendung. Aku lelaki, aku sadar, tapi kali ini, air mata tak lagi dapat kubendung.

Hery sahabatku juga telah mendahuluiku datang melihat kondisi Paul. Kami duduk di depan petugas kesehatan dan menanyakan kesehatan Paul. Ternyata, Paul mendapat pukul dari belakang, ketika duduk minum dengan Adhen di Malioboro, dekat lampu merah, perempatan jalan Trikora, jalan Kusuma Negara dan jalan Malioboro.

Saya kemudian masuk ke dalam Unit Gawat Darurat (UGD) untuk melihat kondisi dari Paul. Sahabtku, Hery juga mengikutiku. Kami masuk dan menjumpai Paul terbaring dengan kondisi memprihatinkan.

Kain horden biru menutupi tempat tidurnya. Paul terbaring dengan posisi tak sadar diri. Sebuah selang telah dimasukkan ke dalam  tubuhnya melalui mulut untuk memompa ke luar darah yang telah masuk hingga ke dalam rongga pernafasan.  Juga paru parunya dibantu oleh alat bandu pernafasan agar lebih membuatnya bisa bernafas. Ini dikarenakan jantungnya tidak memompa darah dengan kuat. Sangat lemah menurut dokter.

Kami juga dengar, bila tadi tidak dibantu menggunakan alat bantu pernafasan, Paul  bisa saja meninggal.

Hery bersamaku kami menuju ke tempat para medis yang merawat Paul. Kami menanyakan soal Paul.

“Duduk dulu, Mas.”

Mereka mempersilahkan kami duduk. Setelahnya, petugas kesehatan yang menyambut kami memanggil dokter yang dari awal menangani Paul.

“Bu,  kami ini sahabatnya Paul. Kami ingin bertanya soal kondisi Paul.”

Dokter kemudian mendehem menyambut pertanyaan Hery. Saya membetulkan tempat duduk. Hery juga mendehem. Setelahnya, dokter telah siap di depan kami untuk menjelaskan.

“Jadi saudara Paul dibawa ke rumah sakit ini dalam kondisi koma, artinya tidak sadar diri,” begitu dokter mengawali penjelasannya.

“Paul diantar, dan demi meilhat kondisi, kami menggunakan alat bantu pernafasan untuk membantu pernafasannya yang tergangggu, dan membuat saluran untuk memommpa ke luar darah yang telah masuk ke dalam saluran pernafasan, sehingga tidak memperngaruhi proses pernafasan.”

Saya duduk saja mendengarkan. Kemudian Hery bertanya lagi.

“Pak, bagaimana dengan kemungkinan yang akan terjadi pada Paul?”

“Begini, sebenarnya melihat kondisi Paul, ada dua kemungkinan.”

Kami berdua diam menjelaskan, dan kemudian dokter terus menjelaskan.

Kemungkinan pertama adalah Paul sembuh dari luka akibat pukulan dan keluar dari rumah sakit ini. Tetapi tidak dengan kondisi tubuh yang normal.  Misalnya, syarafnya mati dan terjadi kelumpuhan, atau karena otak belakangnya terganggu sehingga menyebabkan kehilangan ingatan, bisa saja terjadi.

Kemudian dokter menunjukan kepada kami gambar foto luka yang di kepala. Kami melihat ada patah tulang tengkorak.  Benturan itu mengakibatkan pergereran strukutr tulang pada tulang tengkorak sehingga kepalanya menjadi  bulat oval.

Setelah mendengar penjelasan seperti itu, saya bersama Hery keluar dari UGD. Kami menjumpai banyak mahasiswa Papua yang datang setelah mendengar persitiwa pemukulan terhadap saudara kami tersebut. Disana ada Adhen Dimi. Ia bersama-sama dengan Paul saat peristiwa pemukulan itu terjadi.

Saya mulai bertanya seputar peristiwa itu kepada Adhen.

“Pemukulan itu terjadi secara tiba-tiba. Saya untung dipukul di lengan. Paul itu langsung dipukul menggunakan benda tumpul dari belakang dengan cepat.”

Ceritanya, Adhen bersama Paul sedang duduk di Malioboro, semuah taman kota di pusat kota Yogyakarta yang biasa ramai dkunjungi orang hingga larut malam. Waktu itu kira-kira pukul 21.30 WIB lebih.

Mereka memesan ABC Mocca dan duduk menghadap ke arah jalanan di sebuah deretan abngku yang memang dibuat untuk duduk. Ketika mereka masih asyik bercerita, dari belakang, secara tiba-tiba saja, mereka diserang. Paul langsung dihantam sebuah benda tumpul yang diduga kuat adalah martelu dari belakang. Sementara Adhen menggunakan benda tumpul juga, seperti besi batangan.

Pukulan pertama yang mengenai Adhen kena di tangan. Dan karena demikian, maka Adhen segera berdiri dan menuju ke depan benteng Venderburg yang depannya biasa seorang mahasiswa Papua memarkir motor.

Tak lebih dari 4 menit, mereka segera kembali, dan mendapati Paul sudah tergeletak tak berdaya. Ia terlentang, tak bergerak.

Adhen bersama orang-orang di situ lantas mengangkat Paul dan segera menaikkannya di sebuah becak yang akan membawanya menuju Rumah Sakit Muhammadiyah yang letaknya ada di belakang Malioboro.

**
Subuh, tanggal 05 Juni, sahabat kami, Paulus Petege pergi meninggalkan kami selamanya. Tetapi semangatnya tetap ada bersama-sama kami di sini. Di setiap tarikan nafas dan detak jantung kami.

Satu kata-katanya yang tak akan saya lupa:
“Uang akan datang dan pergi kapan saja, kita semua tahu itu. Tetapi yang terpenting adalah persahabatan dan kebersamaan kita saat ini, di sini, di tempat ini, untuk hari esok.”

___________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar