Cerita
tentang tunas muda Papua yang begitu cepat ditebang iblis. Cerita yang akan abadi selama detak jantung masih
terasa mengalirkan darah ke seluruh sendi.
Penulis: Sanimala B.
Ini cerita tentang tunas yang malang. Tunas yang harus
mempersembahkan masa dewasa dan tuanya kepada malaikat kematian yang datang
memotongnya tanpa ada rasa bersalah. Ini cerita tentang tunas muda yang mati.
Tapi jangan kau sangka ini cerita kematian. Bukan! Ini
cerita kematian yang menggetarkan kalbu. Bahwa rebung bambu muda mestinya
diberi waktu cukup untuk mengeluarkan ranting dan tangkai, memunyai dedaunan
rimbun, dan mempersilakan kawanan burung bertengger dan membuat sarang. Ini
cerita tentang tunas yang dipaksa menjadikan mimpi bagi semua garis kehidupan
yang diberi Tuhan.
Adalah dia, sang Iblis. Ia bekerja 25 jam sehari. 65
menit per jam. 65 detik per menit. Tak sedetik pun matanya terkatup. Konon, ini
semua untuk menebus janjinya pada Tuhan. “Kelak kita akan lihat, kepada siapa
manusia yang kau ciptakan mengikuti.” Dan untuk janjinya itu, Iblis mengerahkan
semua sumberdaya dan kekuatan. Konon, Iblis juga berkoloni, merasuki setiap
orang. Ketika koloni sang iblis telah merasuki manusia, Iblis mulai merasuki
benda-benda. Bhkan nafas sekalipun.
Tapi untuk yang satu ini, aku tidak terima. Mengapa?
Karena rebung bambu ini, tunas ini, anak bangsa ini, dia masih muda. Tak pantas
ia begitu saja diremehkan: dipangkas tanpa ampun. Aku dengar manusia di sudut
ruangan bertanya, mengapa rebung bambu itu harus lahir, sedang hidupnya harus
dipangkas semuda itu? Sementara yang di tengah menyahut, tunas ini tak pantas
mati. Setidaknya ada harga yang diberikannya kepada sang pencipta: karyanya.
Aku tak mengerti mengapa dia pergi begitu lama.
Aku memang tidak mengerti cerita ini bermula dari mana
dan berakhir entah sampai kapan. Kukira cerita ini tak ada ujunya. Setiap orang
akan menyambung kisah tentang tunas ini: dia tunas berbakat. Ia tunas
berpotensi. Ia tunas terbaik. Ia tunas muda dan sehat. Ia tunas imut. Ia tunas
bernurani. Ia tunas gagah. Ia tunas berbobot. Aku tak tahan mendengar ini
semua. Aku masih punya satu pertanyaan: Mengapa harus tunas muda ini?
Saya tidak bermaksud apa-apa memberi pengantar untuk
kisah ini. Yang pasti, ini kisah seorang anak muda Papua. Ia masih belia, amat
sangat muda. Tapi dia berbakat. Ia mengangumkan. Sayangnya, justru dia yang
harus dipangkas. Entah mengapa harus dia, bagaimana semua terjadi, mengapa
harus tunas muda, saudaraku, aku tak kuasa menjawabnya. Kita benar-benar hidup
di saman penuh misteri. Mereka menjadikanya misteri –yang akan dipecahkan
kapan, kita tidak akan pernah dibuat tahu- yang abadi.
Dia, rebung muda ini adalah sahabatku. Kisah ini tak
berarti apa-apa bagi yang apatis terhadp matinya ribuan rebung muda rumpun ini
di pot Papua, pekarangan pasifik. Entah apa pun yang engkau katakan, saya dari
awal harus memperingatkan kau: kematian datang kapan dan dimana saja, dengan
cara apa pun. Kisah ini menginspirasi kita akan dasyatnya hidup dan dunia ini,
dan masyatnya Sang Esa yang menciptakannya.
Akhirnya aku berhasil merelakan lelaki ini terpangkas.
Bukan merelakan kematiannya, tetapi merelakanya mengetahui bahwa dia telah
tiada. Aku benar-benar sakit. Seperti
induk yang dengan teliti mengetahui setiap keajaiban talenta anak-anaknya, aku
mengagumi tunas yang satu ini.
Tapi nasibnya begitu tragis, malam itu ...
***
|
Malam
|
itu masih hari
Rabu. Aku masih ingat tanggalnya, 04 Juni 2014. Setelah ke kampus untuk kuliah,
saya langsung menuju asrama Dogiyai di Klebengan, komplek UGM, Yogyakarta. Di
sana ada Paulus.
Kamarnya 205, rumah dua. Asrama Dogiyai punya da rumah.
Kami menamainya Rumah Satu dan Rumah Dua. Setelah motor kuparkir di tempat
parkir, kulihat pintu kamar 2.05 terbuka. Aku menuju ke sama.
Tak ada orang. Leptopnya masih ada. Facebook Paul masih
aktif. Ia telah membeli pulsa Nolspot, salah satu penyedia layanan
internet di komplek kami.
Sekitar 3 jam aku berselancar di internet. Karena
bosan, aku tutup saja searchingku di internet dan kemudian memutar lagu. Tanpa
mematikan lagu, aku berdiri dan mereagangkan badan. Tak terasa, sudah pukul
18.00 WIB. Aku ingat kaka Jhon Kuayo yang sedang istirahat di kamarku. Aku
segera ke sana menjumpainya. Ketika pintu kamar Paul ingin kukunci, aku lihat
dia berjalan santai menuju kamarnya. Ia ada di halaman. Aku tersenyum padanya,
dan ia juga membalas senyumku. Tanpa kata.
“Pintu sa tra kunci ee..”
“Oke.”
Aku kemudian ke kamar 2.02. Aku kemudian membangunkan
Jhon untuk mengajaknya ke asrama Papua Kamasan I Yogyakarta. Kamis, esok
harinya aku punya kuliah di pagi hari, dan akan lebih baik bila tidur di asrama
Papua yang letaknya dekat dengan kampus.
Setelah Jhon bangun, kami pamit pada Paul.
“Keemaiha, hati-hati!”
Itu kalimat terakhir yang aku dengar keluar dari mulutnya
langsung. Malam itu, kami meninggalkan asrama Dogiyai kira-kira pukul 18.30
WIB.
Tiba di asrama Papua, saya membuka notebook untuk
belajar mata kuliah Pemrograman dan Basis Data yang akan diuji keesokan
paginya. Aku memang tidak berkonsentrasi karena beberapa orang masuk sehingga
saya harus bersama mereka bercerita. Aku memang memegang buku di tanganku,
tetapi itu tidak kuindahkan.
Microsoft
Ascces yang aku buka pun akhirnya kututup. Kuputar lagu dan
kami bercerita sambil mendengar lagu. Untuk ujian kali itu, aku menghadapinya
tanpa persiapan maksimal.
Itu juga karena waktu persiapan di malam dan pagi hari
terbuang karena kisah ini.
Pukul 21.30 WIB lebih, ada short message yang masuk di
inbox handphoneku. Kubuka. Kubaca.
“Mat malam teman-teman Ipmanapandode. Adik Paul dan
Adhen dapat pukul di Malioboro. Skrang mreka di RS terdkat.”
Begitu dapat SMS demikian, segera kumatikan notebook
dan bersama Jhon, kami menuju Malioboro. Kami mencari tahu di rumah sakit mana
merek dirawat.
Aku memang kaget. Paul adalah adik yang kaunggap
sahabat. Sementara Adhen adalah sahabatku sejak kami bertemu di SMA. Dia dan
aku sering bersama. Karena kenal baik dengan keduanya, aku bertanya-tanya
sepanjag jalan, mengapa mereka dipukul.
Sebelumnya, di dekat terminal Giwangan, ketua asrama
Papua dikeroyok warga. Kejadiannya terjadi di malam Selasa, tanggal 03 Juni
2014. Ketua asrama tersinggung karena ada orang yang menudahinya. Kebetulan,
yang meludahinya itu menurutnya adalah orang Maluku.
Ketika keluar dari Alfamaret. Sekelompok warga
bersenjatakan balok, alat tajam dan batu berlari ke arahnya, mengepungnya, dan
menghajarnya bersama-sama. Polisi juga diperkirakan telah tiba di tempat
kejadian saat itu, namun mereka memilih diam saja.
Usai Emiler Jigibalom, ketua asrama itu dikeroyok,
polisi yang telah ada di tempat kejadian membawanya kembali ke asrama Papua.
Masalah telah dianggap polisi, telah selesai, dengan diantarnya ketua asrama ke
asrama Papua.
Saya dan Jhon parkir motor di depan Rumah Sakit
Muhammadiyah, Malioboro, Yogyakarta. Kami masuk, dan mendapati banyak anak-anak
dari Ikatan pelajar dan mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai telah
kumpul di depan rumah sakit. Menurut mereka, korban telah dimasukkan ke dalam
ruang Unit Gawat Darurat.
Menurut mereka, Adhen telah selamat dari upaya
pembunuhan. Mengenai pembunuhan, saya masih belum mendapat keterangan yang
terpercaya. Setelah bertemu Adhen, saya
masuk ke UGD. Petugas keamanan menegurku dengan mengatakan telah banyak orang masuk
ke dalam dan saya harus mengantri menunggu yang di dalam keluar dahulu.
Saya tidak peduli. Saya menerobos masuk saja. Kukatakan
pada petugas keamanan itu bahwa aku kakaknya dan ingin melihat kondisi luka
dari Paul. Ia kemudian mempersilahkanku dengan terpaksa.
Setelah kain gorden pembatas berwarna hijau itu
kusingkap, kulihat kondisi Paul. Saya benar-benar terkejut. Matanya telah
terpejam. Mulutnya mengeluarkan darah. Darah keluar juga melalui telinga dan
hidung.
Ada selang putih kulihat telah dimasukkan melalui mulut
hingga ke tenggorokan. Pernafasannya telah dibantu oleh alat bantu pernafasan.
Aku tertegun. Air mata tak kuasa kubendung. Aku lelaki, aku sadar, tapi kali
ini, air mata tak lagi dapat kubendung.
Hery sahabatku juga telah mendahuluiku datang melihat
kondisi Paul. Kami duduk di depan petugas kesehatan dan menanyakan kesehatan
Paul. Ternyata, Paul mendapat pukul dari belakang, ketika duduk minum dengan
Adhen di Malioboro, dekat lampu merah, perempatan jalan Trikora, jalan Kusuma
Negara dan jalan Malioboro.
Saya kemudian masuk ke dalam Unit Gawat Darurat (UGD)
untuk melihat kondisi dari Paul. Sahabtku, Hery juga mengikutiku. Kami masuk
dan menjumpai Paul terbaring dengan kondisi memprihatinkan.
Kain horden biru menutupi tempat tidurnya. Paul
terbaring dengan posisi tak sadar diri. Sebuah selang telah dimasukkan ke
dalam tubuhnya melalui mulut untuk
memompa ke luar darah yang telah masuk hingga ke dalam rongga pernafasan. Juga paru parunya dibantu oleh alat bandu
pernafasan agar lebih membuatnya bisa bernafas. Ini dikarenakan jantungnya
tidak memompa darah dengan kuat. Sangat lemah menurut dokter.
Kami juga dengar, bila tadi tidak dibantu menggunakan
alat bantu pernafasan, Paul bisa saja
meninggal.
Hery bersamaku kami menuju ke tempat para medis yang
merawat Paul. Kami menanyakan soal Paul.
“Duduk dulu, Mas.”
Mereka mempersilahkan kami duduk. Setelahnya, petugas
kesehatan yang menyambut kami memanggil dokter yang dari awal menangani Paul.
“Bu, kami ini
sahabatnya Paul. Kami ingin bertanya soal kondisi Paul.”
Dokter kemudian mendehem menyambut pertanyaan Hery.
Saya membetulkan tempat duduk. Hery juga mendehem. Setelahnya, dokter telah
siap di depan kami untuk menjelaskan.
“Jadi saudara Paul dibawa ke rumah sakit ini dalam
kondisi koma, artinya tidak sadar diri,” begitu dokter mengawali penjelasannya.
“Paul diantar, dan demi meilhat kondisi, kami
menggunakan alat bantu pernafasan untuk membantu pernafasannya yang tergangggu,
dan membuat saluran untuk memommpa ke luar darah yang telah masuk ke dalam
saluran pernafasan, sehingga tidak memperngaruhi proses pernafasan.”
Saya duduk saja mendengarkan. Kemudian Hery bertanya
lagi.
“Pak, bagaimana dengan kemungkinan yang akan terjadi
pada Paul?”
“Begini, sebenarnya melihat kondisi Paul, ada dua
kemungkinan.”
Kami berdua diam menjelaskan, dan kemudian dokter terus
menjelaskan.
Kemungkinan pertama adalah Paul sembuh dari luka akibat
pukulan dan keluar dari rumah sakit ini. Tetapi tidak dengan kondisi tubuh yang
normal. Misalnya, syarafnya mati dan
terjadi kelumpuhan, atau karena otak belakangnya terganggu sehingga menyebabkan
kehilangan ingatan, bisa saja terjadi.
Kemudian dokter menunjukan kepada kami gambar foto luka
yang di kepala. Kami melihat ada patah tulang tengkorak. Benturan itu mengakibatkan pergereran
strukutr tulang pada tulang tengkorak sehingga kepalanya menjadi bulat oval.
Setelah mendengar penjelasan seperti itu, saya bersama
Hery keluar dari UGD. Kami menjumpai banyak mahasiswa Papua yang datang setelah
mendengar persitiwa pemukulan terhadap saudara kami tersebut. Disana ada Adhen
Dimi. Ia bersama-sama dengan Paul saat peristiwa pemukulan itu terjadi.
Saya mulai bertanya seputar peristiwa itu kepada Adhen.
“Pemukulan itu terjadi secara tiba-tiba. Saya untung
dipukul di lengan. Paul itu langsung dipukul menggunakan benda tumpul dari
belakang dengan cepat.”
Ceritanya, Adhen bersama Paul sedang duduk di
Malioboro, semuah taman kota di pusat kota Yogyakarta yang biasa ramai
dkunjungi orang hingga larut malam. Waktu itu kira-kira pukul 21.30 WIB lebih.
Mereka memesan ABC Mocca dan duduk menghadap ke arah
jalanan di sebuah deretan abngku yang memang dibuat untuk duduk. Ketika mereka
masih asyik bercerita, dari belakang, secara tiba-tiba saja, mereka diserang.
Paul langsung dihantam sebuah benda tumpul yang diduga kuat adalah martelu dari
belakang. Sementara Adhen menggunakan benda tumpul juga, seperti besi batangan.
Pukulan pertama yang mengenai Adhen kena di tangan. Dan
karena demikian, maka Adhen segera berdiri dan menuju ke depan benteng
Venderburg yang depannya biasa seorang mahasiswa Papua memarkir motor.
Tak lebih dari 4 menit, mereka segera kembali, dan
mendapati Paul sudah tergeletak tak berdaya. Ia terlentang, tak bergerak.
Adhen bersama orang-orang di situ lantas mengangkat
Paul dan segera menaikkannya di sebuah becak yang akan membawanya menuju Rumah
Sakit Muhammadiyah yang letaknya ada di belakang Malioboro.
**
Subuh, tanggal 05 Juni, sahabat kami, Paulus Petege
pergi meninggalkan kami selamanya. Tetapi semangatnya tetap ada bersama-sama
kami di sini. Di setiap tarikan nafas dan detak jantung kami.
Satu kata-katanya yang tak akan saya lupa:
“Uang
akan datang dan pergi kapan saja, kita semua tahu itu. Tetapi yang terpenting
adalah persahabatan dan kebersamaan kita saat ini, di sini, di tempat ini,
untuk hari esok.”
___________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar