Jumat, 14 Oktober 2016

Comrade Kelly Kwalik, Hormat!


  Tuan Kelly



Penulis: Sanimala B


“Hormat bagimu, Tuan Kelly ...”

 Bagimu, hidup adalah perjuangan, mati adalah keuntungan. Setiap hari  kami menepi untuk rehat sejenak, hanya kalimat itu yang kuingat. Dan setiap kali mengingatnya, kuingat lelaki kurus tinggi itu. Lelaki mantan guru itu. Lelaki pemilik pangkat “Separatis” dan “Pahlawan” itu. Dia kami sebut Kelly.

Kelly yang kumaksud adalah Jenderal Kelly Kwalik.

Tajam matanya bagai elang. Menerobos belukar dan belantara hingga ke balik bukit. Cerdik. Berani. Yang paling kusukai: sadar bahwa dirinya Papua. Kesadarannya ia bungkus dengan baju lusuh yang membungkus badan kerempeng. Dengan senjata di pundak, kesadaran memaksanya menderita.

Aku adalah lelaki Amungsa. 5 tahun telah kuhabiskan waktu bergerilya. Dan hari ini, tanpanya, kami berlima duduk di puncak bukit ini. Hamparan alam kaya memaksa kami harus menangis. Angin lembut yang menampar kami membuat kami menelan ludah: “Yang kami lihat bukan kami punya. Kami hanya penjaga. ‘Mereka’ penikmatnya.”

Dulu, ketika lelaki itu masih memimpin kami, kakinya selalu bergetar ketika berdiri di bukit ini dan melihat tanah kami. Sungai Wanagon dengan air racun karena limbah FI membuat kami harus tersiksa dengan aktivitas eksploitasinya.

Kadang saya mencoba menyelami ketegaran hati lelaki itu dengan kalkulasi berikut. Bila setiap hari FI (Freeport) produksi 52.000 ton emas, berapa kilogram yang didapat masing-masing orang asli Papua yang jumlahnya tak lebih dari 2 juta jiwa ini? 52.000 ton=52.000.000 kilogram.

Dan bila dibagi dengan 2 juta jiwa, setiap OAP dapat 26 kilogram emas per hari.

Harga pasar untuk satu gram emas 24 karat=Rp500.000. satu kilogram=1.000 gram. Dan bila demikian, 26 kilogram=26.000 gram. Dan bila diuangkan, 1 kilogram saja dapat Rp500.000.000 (lima ratus juta). Bayangkan bila harga satu gram (Rp500.000 dikalikan 26.000 gram), berapa hasilnya?

Ini hanya hasil produksi dari satu hari satu malam. Bayangkan, PT Freeport telah masuk sejak tahun 1967 dan sekarang tahun 2014. Sudah 47 tahun lamanya dia beroperasi. Satu tahun ada 365 hari. Kalikanlah: 52.000.000 kg x 365 hari=18.980.000.000 kilogram. Coba bagi dengan jumlah orang asli Papua saat ini yang kurang dari 2 juta jiwa=9490 kilogram.

Jadi setiap satu orang asli Papua setiap tahun dapat 9490 kg. Bila diubah ke gram, berarti satu orang asli Papua selama setahun dapat 9.490.000 gram. Sekarang kalikan dengan Rp500.000 (500.000 adalah harga per 1 gram emas di pasar).

Hasilnya, setiap tahun, satu orang asli Papua mendapat Rp4.745.000.000.000. Bayangkan kayanya orang asli Papua. Sekarang, silahkan kalikan: 4.745.000.000.000 x 17155 (jumlah hari dalam produksi PT FI: 350 hari dalam setahun x 47 tahun operasi PT FI).

Hasilnya adalah Rp.81.874.975.000.000.000 yang harusnya menjadi milik setiap satu orang asli Papua saat ini.

Kembali ke getaran kaki sang pahlawan di atas. Mukanya yang beringas kadang berubah lemah. Ada  bola-bola air bening menggelinding dari pipinya memandang sungai racun Wanagon itu. Dan bila ia menyeka air matanya menggunakan jeket hitam tua yang tak pernah diganti entah berapa tahun selama bergerilya itu, kami tak berani mengganggunya.

***
Kelly meninggal dengan cara tak pantas. Dibunuh tanpa ada tuduhan, proses hukum, vonis dan hukuman seperti yang dibanggakan negara ini. Hukum Indonesia barangkali berlaku hanya bagi mereka yang bukan berlabel “separatis”.

Hari kematiannya menjadi hari sukacita Indonesia.Tepatnya 8 Januari 1996, namanya mengemuka untuk rakyat Indonesia kebanyakan. Mission Aviation Fellowship cabang Wamena melaporkan kepada Kodim Jayawijaya, bahwa sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz 95 disandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) kelompok Kelly Kwalik. Sandera berada di desa Mapenduma, kecamatan Tiom, Jayawijaya.

Sejak itu, Kelly menjadi kambing hitam: cap separatis melekat padanya, menjadi kambing hitam operasi militer di areal Freeport mencari uang kemanan, dan lain-lain.

Pada Rabu 16 Desember 2009 dinihari menjelang pukul 3.00 Panglima TPN/OPM Kodap III Nemangkawi (Mimika) Kelly Kwalik (KK) mungkin sedang tidur pulas. Ia berada di sebuah rumah di kawasan yang disebut Gorong-gorong di pinggiran Timika.  Pasukan Densus 88 menyerbu rumah tersebut dan menembak tewas sang pahlawan, Jenderal Kelly Kwalik.

***
Kelly pejuang Papua di tubuh OPM. Dia tokoh yang liat, keras kepala, partikularistik, dan tak-ada-matinya meskipun berhadapan dengan ribuan letupan senjata selama umur konflik Papua. Dan yang aku yakini, yang membuatnya demikian hanya satu: ingin dihargai sebagai manusia. Ingin dihargai sebagai bangsa. Tak ingin diperlakukan tidak manusiawi. Ingin hidup merdeka.

“Selama Indonesia ada di tanah Papua, kita hanya jadi generasi penjaga tanpa mampu berbuat apa-apa untuk menjadikan diri kita generasi penikmat, atau menjadikan anak cucu kita nanti generasi penikmat. Tak ada. Mereka harus keluar. Kita harus merdeka. Itu satu-satunya jalan.”

Satu pernyataan yang kadang tersirat dari setiap tindakan dan caranya. Setiap manusia punya prinsip hidup. Kelly sebagai salah satu yang tunduk pada agama selalu menekankan kami untuk tidak membunuh tanpa alasan.

Dalam hidupnya, ia telah membuat keputusan hidup yang sulit. Ia rela memanggul senjata untuk menegakkan haknya yang diinjak-injak. Ia salah satu dari antara ribuan orang Papua yang penakut dan penjilat yang rela merendahkan martabat  dan harga dirinya dan membiarkannya diinjak-injak.

Lebih mulia komandan kami. Indonesia dan Freeport telah membuat dia menjadi pemberontak. Karena hati putihnya yang seperti salju Memangkawi, ia tahu apa yang harus ia perbuat: mempertahankan haknya, harga dirinya, kemerdekaanya, hingga ajal menjemput di medan laga ... .

Barangkali ia menampar  yang berdasi dan berpendidikan ini kuat-kuat, bagaimana caranya kita harus bersikap kala “mereka” menginjak-injak harga diri kita. Barangkali kita harus mencontoh sikapnya yang keras dan hatinya yang pro rakyat, agar kita tidak jadi penjilat demi harta dan kursi.

Dan di sini, di atas bukit ini, kami berlima mengenang pemimpin kami. “Bagimu hormat kami, Tuan Kelly.”

Penulis adalah aktivis FKPMKP DIY.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar