Tuan Kelly
Penulis: Sanimala B
“Hormat bagimu, Tuan
Kelly ...”
Bagimu, hidup adalah
perjuangan, mati adalah keuntungan. Setiap hari kami menepi untuk rehat sejenak, hanya
kalimat itu yang kuingat. Dan setiap kali mengingatnya, kuingat lelaki kurus
tinggi itu. Lelaki mantan guru itu. Lelaki pemilik pangkat “Separatis” dan
“Pahlawan” itu. Dia kami sebut Kelly.
Kelly yang kumaksud adalah Jenderal Kelly Kwalik.
Tajam matanya bagai elang. Menerobos belukar dan belantara
hingga ke balik bukit. Cerdik. Berani. Yang paling kusukai: sadar bahwa dirinya
Papua. Kesadarannya ia bungkus dengan baju lusuh yang membungkus badan
kerempeng. Dengan senjata di pundak, kesadaran memaksanya menderita.
Aku adalah lelaki Amungsa. 5 tahun telah kuhabiskan waktu
bergerilya. Dan hari ini, tanpanya, kami berlima duduk di puncak bukit ini.
Hamparan alam kaya memaksa kami harus menangis. Angin lembut yang menampar kami
membuat kami menelan ludah: “Yang kami lihat bukan kami punya. Kami hanya
penjaga. ‘Mereka’ penikmatnya.”
Dulu, ketika lelaki itu masih memimpin kami, kakinya selalu
bergetar ketika berdiri di bukit ini dan melihat tanah kami. Sungai Wanagon
dengan air racun karena limbah FI membuat kami harus tersiksa dengan aktivitas
eksploitasinya.
Kadang saya mencoba menyelami ketegaran hati lelaki itu
dengan kalkulasi berikut. Bila setiap hari FI (Freeport) produksi 52.000 ton
emas, berapa kilogram yang didapat masing-masing orang asli Papua yang
jumlahnya tak lebih dari 2 juta jiwa ini? 52.000 ton=52.000.000 kilogram.
Dan bila dibagi dengan 2 juta jiwa, setiap OAP dapat 26
kilogram emas per hari.
Harga pasar untuk satu gram emas 24 karat=Rp500.000. satu
kilogram=1.000 gram. Dan bila demikian, 26 kilogram=26.000 gram. Dan bila
diuangkan, 1 kilogram saja dapat Rp500.000.000 (lima ratus juta). Bayangkan
bila harga satu gram (Rp500.000 dikalikan 26.000 gram), berapa hasilnya?
Ini hanya hasil produksi dari satu hari satu malam.
Bayangkan, PT Freeport telah masuk sejak tahun 1967 dan sekarang tahun 2014.
Sudah 47 tahun lamanya dia beroperasi. Satu tahun ada 365 hari. Kalikanlah:
52.000.000 kg x 365 hari=18.980.000.000 kilogram. Coba bagi dengan jumlah orang
asli Papua saat ini yang kurang dari 2 juta jiwa=9490 kilogram.
Jadi setiap satu orang asli Papua setiap tahun dapat 9490 kg.
Bila diubah ke gram, berarti satu orang asli Papua selama setahun dapat
9.490.000 gram. Sekarang kalikan dengan Rp500.000 (500.000 adalah harga per 1
gram emas di pasar).
Hasilnya, setiap tahun, satu orang asli Papua mendapat Rp4.745.000.000.000.
Bayangkan kayanya orang asli Papua. Sekarang, silahkan kalikan:
4.745.000.000.000 x 17155 (jumlah hari dalam produksi PT FI: 350 hari dalam
setahun x 47 tahun operasi PT FI).
Hasilnya adalah Rp.81.874.975.000.000.000 yang harusnya
menjadi milik setiap satu orang asli Papua saat ini.
Kembali ke getaran kaki sang pahlawan di atas. Mukanya yang
beringas kadang berubah lemah. Ada
bola-bola air bening menggelinding dari pipinya memandang sungai racun
Wanagon itu. Dan bila ia menyeka air matanya menggunakan jeket hitam tua yang
tak pernah diganti entah berapa tahun selama bergerilya itu, kami tak berani
mengganggunya.
***
Kelly meninggal dengan cara tak pantas. Dibunuh tanpa ada
tuduhan, proses hukum, vonis dan hukuman seperti yang dibanggakan negara ini.
Hukum Indonesia barangkali berlaku hanya bagi mereka yang bukan berlabel
“separatis”.
Hari kematiannya menjadi hari sukacita Indonesia.Tepatnya 8
Januari 1996, namanya mengemuka untuk rakyat Indonesia kebanyakan. Mission
Aviation Fellowship cabang Wamena melaporkan kepada Kodim Jayawijaya, bahwa
sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz 95 disandera oleh
Organisasi Papua Merdeka (OPM) kelompok Kelly Kwalik. Sandera berada di desa
Mapenduma, kecamatan Tiom, Jayawijaya.
Sejak itu, Kelly menjadi kambing hitam: cap separatis melekat
padanya, menjadi kambing hitam operasi militer di areal Freeport mencari uang
kemanan, dan lain-lain.
Pada Rabu 16 Desember 2009 dinihari menjelang pukul 3.00
Panglima TPN/OPM Kodap III Nemangkawi (Mimika) Kelly Kwalik (KK) mungkin sedang
tidur pulas. Ia berada di sebuah rumah di kawasan yang disebut Gorong-gorong di
pinggiran Timika. Pasukan Densus 88
menyerbu rumah tersebut dan menembak tewas sang pahlawan, Jenderal Kelly
Kwalik.
***
Kelly pejuang Papua di tubuh OPM. Dia tokoh yang liat, keras
kepala, partikularistik, dan tak-ada-matinya meskipun berhadapan dengan ribuan
letupan senjata selama umur konflik Papua. Dan yang aku yakini, yang membuatnya
demikian hanya satu: ingin dihargai sebagai manusia. Ingin dihargai sebagai
bangsa. Tak ingin diperlakukan tidak manusiawi. Ingin hidup merdeka.
“Selama Indonesia ada di tanah Papua, kita hanya jadi
generasi penjaga tanpa mampu berbuat apa-apa untuk menjadikan diri kita
generasi penikmat, atau menjadikan anak cucu kita nanti generasi penikmat. Tak
ada. Mereka harus keluar. Kita harus merdeka. Itu satu-satunya jalan.”
Satu pernyataan yang kadang tersirat dari setiap tindakan dan
caranya. Setiap manusia punya prinsip hidup. Kelly sebagai salah satu yang
tunduk pada agama selalu menekankan kami untuk tidak membunuh tanpa alasan.
Dalam hidupnya, ia telah membuat keputusan hidup yang sulit.
Ia rela memanggul senjata untuk menegakkan haknya yang diinjak-injak. Ia salah
satu dari antara ribuan orang Papua yang penakut dan penjilat yang rela
merendahkan martabat dan harga dirinya
dan membiarkannya diinjak-injak.
Lebih mulia komandan kami. Indonesia dan Freeport telah
membuat dia menjadi pemberontak. Karena hati putihnya yang seperti salju
Memangkawi, ia tahu apa yang harus ia perbuat: mempertahankan haknya, harga
dirinya, kemerdekaanya, hingga ajal menjemput di medan laga ... .
Barangkali ia menampar
yang berdasi dan berpendidikan ini kuat-kuat, bagaimana caranya kita
harus bersikap kala “mereka” menginjak-injak harga diri kita. Barangkali kita
harus mencontoh sikapnya yang keras dan hatinya yang pro rakyat, agar kita
tidak jadi penjilat demi harta dan kursi.
Dan di sini, di atas bukit ini, kami berlima mengenang
pemimpin kami. “Bagimu hormat kami, Tuan Kelly.”
Penulis adalah aktivis FKPMKP DIY.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar